
Ilustrasi Orang Sedang Berbicara. Sumber Foto: Pixabay.com
Warga kampung yang tidak ingin disebutkan namanya, mayoritas
penduduknya orang Betawi. Kebiasaan nyablak yang diwariskan secara turun
menurun oleh para pendahulu sudah melekat dalam batin, seperti gaya bicaranya
yang autentik.
Orang betawi cenderung berkata terus terang tanpa basa basi.
Ketika membicarakan sesuatu, mereka akan berbicara apa adanya dan terkesan
ceplas-ceplos atau blak-blakan. Orang lain beranggapan orang Betawi itu
bertingkah laku tidak lembut dan tidak peduli dengan perasaan orang lain.
Benar saja orang Betawi berbicara dengan nada tinggi. Bahkan
terlihat bangga dengan kelokalannya, hingga tak ada keinginan untuk menukar
bentuk gaya bicaranya. Mereka menjadi lebih erat dengan semua orang. Walaupun
ada saja yang tidak berlapang dada ketika berargumen dengannya.
Terlebih lagi orang Betawi paling riuh ketika mendengar
obrolan tentang permasalahan orang lain. Satu kampung pasti dapat menangkap
suara ocehannya. Pasalnya, pokok pangkal informasi dikendalikan olehnya. Semua
orang harus mengumpul padanya.
Padahal, mereka kalau ditagih uang iuran bulan dengan
bendahara RT setempat pura-pura tidak tangkap. Ketika ada sesuatu yang beredar
mengenai bantuan sembilan bahan pokok atau uang. Mereka langsung mau, tanpa
berbelit-belit dan ingin diutamakan.
Mereka akan nyinyir saat tidak dapat bantuan, dengan raut
wajah yang sangat berapi-api. “Yaelah, itu mah orang mampu semuanye yang dapet,
masa kite kagak!” seru salah satu warga setempat.
Untuk itu, mereka dijuluki dengan orang “Jalur Gaza”. Karena
dahulu mereka suka bertengkar dengan adu kata-kata atau adu tenaga, melawan
orang yang membungakan uang. Istilah “Jalur Gaza” itu sesuatu yang sama dengan
Kota Gaza yang ada di Mesir yang berkaitan dengan perselisihan dengan negeri
sebrang. Selalu memperebutkan yang bukan haknya.
Perihal tentang tenaga, orang Betawi merupakan jawarannya.
Dalam menjalani hidup mereka suka dengan keadaan panas ketimbang dingin. Tak
heran jika orang lain menilai orang Betawi bak tak punya hati.
Warga setempat pun dibuat heran dengan kerisuhannya. Mereka
pasti ada saja bahan yang diperbincangkan dan ujungnya merambat kemana-mana.
Sampai menggembarkan ke kampung sebelah. “Ya, namanya ibu-ibu Betawi mah,
gitu,” ucap salah satu warga sambil tertawa.
Tidak bisa dipungkiri mereka emang gaya bicaranya seperti
itu. Warga setempat melakukan suatu usaha untuk saling memahaminya. Walaupun
mereka biang kompor, tetap saja seperti keluarga.
0 Comments