![]() |
| Ilustrasi Tumpukan Buku. Sumber Foto: Pexels.com |
Lembar kertas yang berjilid setia menemanimu di setiap
matahari mulai terbenam. Sambil bersandar di loteng rumahmu yang mungil nan
indah. Harimu bersinar tiap kali memanjakan mata untuk memahaminya.
Kamu tak hanya mengasal membolak-balikan halaman saja,
tetapi dirimu juga diminta untuk meresensi lembaran itu. Dirimu muncul di dunia
dengan keluarga yang menanamkan budaya literasi. Sehingga kamu terbiasa
merangkai pokok pikiran sesuatu hal, yang tidak familiar di kehidupanmu.
Coretan pena hitam di lembar kertasmu sudah mendarah daging.
Hatimu hampa ketika tidak menyentuhnya. Kebiasaan itu sudah menjadi separuh
jiwamu. Hampir setiap hari kamu menghabiskan waktu bersamanya, hingga
mengasingkan diri di bilikmu.
Menyelami dunia pengolahaan makna menjadi rutinitasmu.
Ribuan ejaan yang kamu cermati, salah satu cita-citamu sebagai penulis. Sejak
kecil kamu mendambakan sekali hasil karangan Sapardi Djoko Damono. Hatimu
seperti tersayat-sayat saat menggambarkan apa yang ada di dalam karyanya.
Sejumlah lembaran, kamu selesaikan dalam satu waktu ditemani
dengan secangkir kopi. Kamu sangat antusias menaruh minat di bidang sastra.
Hingga kamu memperolehnya dengan api yang terus berkobar. Sehingga koleksimu
penuh dengan berbagai karangan dari luar maupun dalam negeri.
Inspirasimu tersalurkan dengan elok melalui lembaran huruf
berbanjar. Kamu juga tiada henti mencapai pengetahuan lebih tinggi. Karena
dirimu menjalankan suatu yang menjadi kebiasaan dan sukar diubah.
Perbendaharaan kata bak permainan yang harus kamu susun sesuai panduannya agar
tidak berserakan.
Pasalnya, bahan untuk menghilangkan penyakitmu dengan
menempatkan secara beraturan yang ada di lembaran itu. Angan-anganmu keluar
menampakkan diri menjelma sebagai lembaran tebal. Berisikan kumpulan abjad
dengan rentetan yang lazim dalam bahasa tertentu.
Kebiasaan itu wujud hasil perkembanganmu memerangi pola
berpikir dalam keadaan gawat. Kamu terus mempelajari kembali maksud dari suatu
bentuk kebahasaan yang runtut. Dirimu belajar sebaik-baiknya agar menjadi pengarang
yang teladan.
Cara pandang mempengaruhimu mengolah sesuatu yang mengandung
beberapa unsur yang pelik. Menciptakan satu kesatuan dalam bentuk karya sastra
yang terdiri dari beberapa baris. Seluruh harimu harus dilakukan dengan
penyesuaian terhadap perihal bahasa yang asing.
Karya rujukan berbentuk cetakan tebal sudah menjadi
makananmu setiap hari. Mendapatkan ungkapan khusus seperti mencari benang dalam
jerami. Hasil karanganmu yang menyayat nadi tak segampang membalikkan telapak
tangan.
usahamu yang penuh dengan kesukaran dan bahaya membuahkan hasil yang membangun. Satu persatu anak tangga kamu lewati. Ucapan yang tidak kamu telan, hingga karyamu sebagai pembuktian.

0 Comments